RENUNGAN ANOMALI PENJAJAHAN

 

Barangkali Anda juga sudah pernah mendengar gurauan getir yang bunyinya kira-kira seperti ini, “Wah, coba dulu kita dijajah lebih lama oleh Inggris, mungkin negeri kita sudah lebih makmur dan teratur.” Di masa lalu Inggris memang lebih “punya hati” dalam melebarkan sayap kekuasaannya di dunia. Kawasan yang dikuasainya tak hanya digerus kekayaannya, tapi juga disiapkan untuk kelak bisa ditinggalkan dan menjadi negara yang berdikari, tertib, dan teratur. Negara eks jajahannya juga terus dipantau dan dibantu, minimal jangan sampai jatuh ke tangan penjajah lain. Organisasi yang mengatur mereka pun dibentuk, dikenal sebagai Commonwealth atau Persemakmuran. Dalam dunia olahraga, mereka punya pekan olahraga empat tahunan Persemakmuran alias Commonwealth Games.

Bagaimana dengan Belanda yang menjajah negeri kita lebih dari 350 tahun? Politik atau kebijakan “devide et impera” (arti harfiahnya “memecah dan menguasai”), dijalankan Belanda di bidang politik, sosial, dan ekonomi, tapi juga olahraga. Mereka hanya memilih pemain yang bisa dipercaya dan setia kepada pemerintah penjajah untuk memperkuat Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938. Yang lain, sebaik apa pun tapi menolak bermain di bawah bendera Merah-Putih-Biru, dan lebih setia kepada PSSI pimpinan Soeratin, ditinggalkan. Hampir 70 tahun kemudian, atau 60 tahun lebih setelah Indonesia merdeka, Belanda ternyata tak berniat memberi perhatian, apalagi bantuan, terhadap urusan Indonesia yang berkaitan dengan mereka, termasuk dalam bidang olahraga. Para pemain timnas U-23 PSSI yang disiapkan untuk Asian Games 2006 misalnya, tetap saja dikenai biaya normal yang identik dengan mahal saat singgah dua bulan untuk berlatih di Belanda. Hasilnya pun buruk, timnas kalah terus dalam prakualifikasi hingga harus angkat koper sebelum AG 2006 dimulai. Iri Tetangga Kita memang layak iri kepada Malaysia dan Singapura. Dua negara ini sekian ratus tahun dijajah Inggris, dengan cara yang jauh lebih mendidik bukan memecah belah, dan terbuktilah mereka menjadi lebih maju, makmur, dan teratur. Banyak data, fakta, dan angka yang menunjukkan tingkat kemakmuran mereka lebih tinggi dari Indonesia. Kita pun harus mengakui, budaya antre yang mulai kita nikmati di sini, sudah lama menjadi bagian dari cara hidup masyarakat di Malaysia dan Singapura. Dalam sepak bola, pola pembinaan tertib dan teratur warisan Inggris, mulai menunjukkan hasilnya pada Malaysia dan Singapura. Setidaknya di tingkat SEA Games, kita baru saja melihat langsung kelebihan Malaysia. Di kejuaraan Piala Tiger yang kini bernama Piala AFF pun, Singapura lebih berjaya dari kita. Kini sepak bola kita malah berada dalam kondisi sangat buruk, yang kembali membuktikan buruknya warisan penjajah Belanda.

Kebudayaan pecah belah Belanda rupanya menular kepada sejumlah orang dalam masyarakat sepak bola kita sehingga kini terdapat “dua PSSI”. Disadari atau tidak, kebebasan berpendapat dan berserikat sejak 1998, telah membuat warisan pecah belah ala Belanda tumbuh subur. Apakah di dua negara tetangga bekas jajahan Inggris itu, pernah terjadi perpecahan yang memalukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s